Persatuan Artis Film Indonesia Peringati Ulang Tahun Ke-50 Di awal berkembangnya perfilman nasional, persaingan aktor dan artis film tidak sekeras persaingan aktor dan artis di Hollywood, karena saat itu pendapatan dari berkecimpung di dunia acting Indonesia belum se-spektakuler di Hollywood. Demikian ditulis dalam buku karangan Salim Said berjudul Shadows on the Silver Screen, sebuah sejarah sosial perfilman Indonesia . Artis seperti Roekiah di tahun 1940-an, Raden Mochtar di tahun 1950-an, Indriarti Iskak, Chitra Dewi, serta Mieke Widjaja di tahun 1950-an, Ismed M. Noer, Rendra Karno di tahun 1960-an, Slamet Rahardjo, Sophan Sophiaan, Widyawati dan Crhistine Hakim serta Rano Karno di tahun 1970 dan 1980-an sudah mewarnai perfilman nasional, baik dalam masa pasang juga surutnya produksi layar lebar di bumi Indonesia. Secara tidak sadar, mereka telah memberikan bentuk dan warna kepada generasi yang kita lihat sekarang. Berawal dari SARI (Sarikat Artis Indonesia ), menjadi PERSAFI (Persatuan Artis Film dan Sandiwara Indonesia ) yang menjadi cikal bakal munculnya PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia ), perfilman nasional telah mengalami masa perjuangan dan perkembangan yang tidak pendek. Selama lima puluh tahun, organisasi ini telah menjadi saksi hidup jatuh bangunnya dunia perfilman nasional. Di usia ke-50 ini, PARFI diharapkan tidak menjadi tua, tapi menjadi matang, dan lebih mantap untuk kembali memeriahkan panggung perfilman nasional yang memiliki peran penting dalam pembentukan identitas bangsa. Sebagai wadah para pemeran cerita dalam panggung film nasional, PARFI memiliki fungsi strategis dalam pembangunan bangsa. Dalam tubuh PARFI-lah sebetulnya arah dan langkah generasi bangsa ini sebagian ditentukan, karena peradaban bangsa saat ini tidak mungkin lepas dari pengaruh perfilman serta komponen-kompenen yang terkait di dalamnya, termasuk para aktor dan artis film. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang turut bertanggung jawab atas pembentukan jati diri dan identitas bangsa serta perkembangan budaya bangsa mendukung kinerja PARFI yang dinilai semakin mantap. Pada perayaan Ulang Tahun ke-50 ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik S.E., turut bergembira dan menyambut baik langkah-langkah ke depan PARFI yang semakin baik. Dengan kembalinya FFI tahun 2004 dan 2005, serta FFI 2006 yang tengah dipersiapkan, Menbudpar merasa optimis bahwa perfilman nasional akan menempatkan dirinya setara bahkan lebih baik dibandingkan dengan perfilman negara lain yang banyak diimpor negara kita saat ini. |
0 Response to "Press Release (lainnya)"
Post a Comment